Seperti yang telah saya janjikan pada tulisan pertama saya (yang barusan saya save :), saya akan mencoba menceritakan sisi lain dari les menjahit saya yaitu cerita mengenai para ibu-ibu teman les saya... Sebelumnya saya tegaskan bahwa penulisan saya ini sama sekali tidak memiliki tujuan menjelek-jelekkan atau apapun yang berhubungan dengan itu, penulisan saya ini hanya bertujuan melatih daya dengar, lihat dan cerna sistem indera saya (seperti yang saya cantumkan pada profil), serta melatih jari-jemari saya agar lebih sinkron dengan otak saya yang belum sempurna ini (sebagian besar manusia hanya menggunakan sedikit persen dari kapasitas otaknya, termasuk saya).
Cerita saya mulai dari hari pertama les, bagaimana kesan pertama saya. Begitu masuk ruang les telah ada beberapa ibu-ibu yang telah sibuk dengan pekerjaan masing-masing (termasuk obrolannya). Ruang les tersebut akan membawa anda menyusuri kembali jaman setelah kemerdekaan, anda akan dipaksa melihat kembali film-film jadul dengan suara yang menggema-gema (sungguh, benar-benar diiringi lagu "Senja di batas kota"). Seorang Ibu dengan penampilan modis dan logat "lo-guwe-lo-guwe" menyadarkan saya bahwa sekarang adalah tahun 2012. Ambil tempatlah saya, kursi yang paling dekat dengan ibu guru les yang mulai membuka les sejak tahun 1948, nah loo...benar kan. Saya mendapatkan kursi yang menghadap tembok, sehingga tidak dapat secara proper melihat kembali ibu-ibu yang meramaikan suasana di situ.
Dari sekilas pandang tadi, saya dapati tiga golongan ibu-ibu : 1 ibu modis, 2 ibu sederhana, dan 1 ibu 1948. Ibu modis tentulah ibu "lo-guwe" tadi, ibu sederhana "a" yang sedang les bordir, ibu sederhana "b" yang tinggal ujian sertifikasi dan terakhir tentu saja ibu guru tercinta. Pada hari pertama tersebut saya dapati ibu "lo-guwe" (setelah ini akan saya singkat jadi ILG) yang sangat banyak omong, ibu sederhana "a" (IHA) yang banyak sekali curhat dan ibu sederhana "b" (ISB) yang cenderung diam karena belajar ujian, yang terakhir tentu saja ibu guru tercinta (IGC) yang dengan kecepatannya (sangat pelan sekali) mengajari kami. Pada hari pertama ini tidak banyak yang saya ketahui tentang obrolan-obrolan ibu-ibu ini, saya terlalu konsentrasi (datang telat, brani-braninya gak konsen).
Pada hari kedua barulah obrolan ala ibu-ibu arisan tercerna (ISB tak hadir),
IHA : haduh Bu, piye yo iki, aku arep pulang kampung waelah, njahit di desa.
ILG : eh Bu IHA jangan gitu lo, dipikir yang mantep dulu.
IHA : lha piye neh, anak pertama kuliah gak rampung-rampung (JLEB!), anak kedua mau jadi pilot mbayar 60jt, duwit darimana Bu.
ILG : ya berdoa Bu IHA diomongin sama suami.
dst..dst..dst...
pokoknya pembicaraan tersebut berlangsung hingga jam les berakhir(ngomong aja males nulis, bingung, maklum lah ini baru kenalan, saya njelasinnya secara umum dulu, besok-besok kalo ada kejadian menarik akan saya tulis lebih detail deh :).
nah dari semua yang telinga dan mata saya terima, hipotesis yang sama ambil
1. IHA adalah ibu separo baya yang telah lebih banyak merasakan manis getirnya hidup, memiliki anak yang menginjak dewasa dan merasa pendapatnya telah tak dibutuhkan dalam keluarga (semangat Bu!)
2. ILG, ibu muda (anaknya yang paling besar baru TK) dengan pengalaman kurang, tetapi sangat pandai berbicara, sangat pandai menanggapi, dengan prinsip hidup yang belum tergoyahkan, dia memberi solusi.
dan pada H-4 ini ada lagi ibu baru (IBB), yang belum banyak bisa saya ceritakan, tetapi ada dua potongan peristiwa menarik
1.
IGT : ya setelah ini dijelujur ya mbak
IBB : jelujur itu gimana ya Bu?
IGT : mbak, tolong mbak IBB ini diajari (berkata padaku)
Apa jelujur??? ya maklum orang les njahitkan karena belum bisa njahit mbak.
2.
tb2 seorang lelaki datang (SLL) sambil menggendong balita
SLL : cari ibunya
IBB : hai (ternyata cari IBB, tak pikir dia akan langsung nyamperin anaknya, ternyata tetap melanjutkan kerjaannya, sampai...
SLL : pulang dulu ya
IBB : daddaaaa...
saya : tak pikir anaknya bakal nangis mbak, kok ternyata malah senyum, lucu tenan
IBB : suamiku orangnya curigaan mbak.
what??!!! aigoo...
sampai dengan sekarang saya masih bingung apakah saya akan senang atau sebel kalo suami saya nengok pas lagi les njahit. Ya kehidupan rumah tangga memang rumit. Mari belajar.